Mengikuti Sertifikasi Basic Remote Pilot License FASI

Sertifikasi Basic Remote Pilot FASI batch 14
Para peserta Sertifikasi Basic Remote Pilot FASI Batch 14
Reading Time: 4 minutes

Setelah beberapa kali gagal, akhirnya saya berkesempatan mengikuti sertifikasi Basic Remote Pilot License (BRP) Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), selama 2 hari sejak tanggal 19-20 September 2020. Sertifikasi BRP yang saya ikuti ini adalah batch 14, diselenggarakan di Lanud Atang Senjaya, Bogor. Pas! Deket rumah! ūüôā¬†

Sekilas Tentang FASI

Logo FASIFederasi Aero Sport Indonesia (FASI) adalah sebuah organisasi olahraga dirgantara di Indonesia. FASI didirikan oleh pemerintah Indonesia pada 17 Januari 1972 untuk membina, mengembangkan, mengkoordinasikan dan melaksanakan kegiatan olahraga dirgantara segenap warga negara Indonesia di manapun berada, serta segenap olahragawan dirgantara di seluruh wilayah Republik Indonesia apapun kewarganegaraannya (Wikipedia). FASI adalah anggota aktif dari Federasi Airsport Internasional (FAI) dan merupakan National Airsport Control resmi FAI di Indonesia. Di Indonesia, FASI ada di bawah naungan TNI AU dan berwenang untuk membina potensi Olahraga Dirgantara untuk menjamin keselamatan terbang dan keamanan negara.

FASI menyelenggarakan sertifikasi secara rutin untuk pilot drone. Namun, perlu diketahui bahwa sertifikasi pilot drone yang diadakan oleh FASI adalah sertifikasi yang dikhususkan untuk pilot drone rekreasional dan hobi.

Mengapa Pilot Drone Perlu Disertifikasi?

Dulu saya sempat dengar pendapat seseorang (saya lupa siapa), bahwa istilah Pilot untuk orang yang mengoperasikan drone tidak tepat. Menurut dia, istilah yang tepat adalah operator. Saya sempat setuju dengan pendapat itu. Sampai akhirnya pada sertifikasi ini, saya jadi tidak sependapat dengan orang itu. Why?

Karena seorang operator drone memiliki tanggungjawab yang sama dengan seorang pilot pesawat berawak. Resiko yang dihadapi seorang operator (atau sekarang boleh saya sebut pilot) adalah sama dengan resiko yang dihadapi seorang pilot berawak.

Flying is not all about ME, it’s all about WE

Ya! Itulah pelajaran yang saya dapat dari materi Aeronautical Decision Making (ADM) oleh Mr Don Andantino (@donandantino), seorang pilot drone yang menjadi instruktur pada sertifikasi ini.

Karena alasan safety pula lah maka seorang pilot drone harus disertifikasi. Tujuannya adalah agar setiap orang yang menerbangkan drone paham bahwa ada tanggungjawab yang besar saat menerbangkan drone. Keputusan di udara, akan berpengaruh tidak hanya pada wahana, tetapi juga pilot, dan orang di sekitarnya.

Selain itu, saat ini sudah banyak pemberi kerja yang memahami faktor keselamatan yang harus menjadi perhatian utama di setiap pekerjaan yang melibatkan drone. Akhirnya mereka mensyaratkan sertifikat untuk setiap penerima kerja. Jika seorang pilot tidak tersertifikasi, maka kemungkinan akan sulit mendapatkan peluang kerja.

Jalannya Kegiatan

Sertifikasi yang saya ikuti adalah sertifikasi Basic Remote Pilot License (BRP), yang merupakan sertifikasi level dasar untuk pilot drone rekreasional dan hobi. Level berikutnya adalah Remote Pilot License (RPL) yang merupakan sertifikasi tingkat lanjut. Seorang pilot drone sebaiknya sudah memiliki kemampuan dasar untuk mengoperasikan drone, sebelum mengikuti sertifikasi Basic Remote Pilot (BRP).

Kegiatan diadakan di Gedung Megantara, Lanud Atang Senjaya, Bogor. Kegiatan diadakan selama 2 hari penuh sejak tanggal 19 September sampai 20 September 2020. Ada sekitar 80 peserta terdaftar, tidak sedikit peserta berasal dari luar Bogor.

Karena masih dalam kondisi pandemi COVID-19, maka acara diadakan sesuai dengan protokol kesehatan. Sebelum masuk ke ruangan, setiap peserta dan instruktur diuji dengan rapid test. Panitia bekerjasama dengan RSAU Dr. M. Hassan Toto, Lanud Atang Senjaya. Syukur alhamdulillah, semua peserta lolos rapid test dan dipersilakan masuk ke ruangan. Saat memasuki ruangan, tiap peserta juga diwajibkan menggunakan masker, dan mendapatkan masing-masing 1 face-mask yang wajib dipakai selama acara berlangsung. Susunan kursi peserta juga disusun sedemikian rupa dengan prinsip physical distancing.

sertifikasi BRP FASI

Suasana sertifikasi BRP dengan protokol COVID-19

Selama 2 hari kegiatan, materi yang diterima peserta cukup padat. Mencakup materi Air Law berdasarkan CASR part 61 tentang Pilot Licensing, CASR part 91 tentang General Operating, CASR part 107 tentang small UAS, Permenhub 37/2020 & KKOP, Aeronautical Decision Making (ADM), Basic Aerodynamic Theory, Basic Meteorology, Safety Procedures, Radio Communication, Risk Assessment, Permit/NOTAM, dan Aerial Photo. Karena basic saya adalah keteknikan atau engineering, beberapa materi sudah pernah saya pelajari sebelumnya. Terutama tentang basic aerodynamic yang beberapa hal di dalamnya pernah saya pelajari di kuliah Termodinamika dan kuliah Mekanika Fluida. Materi basic meteorology juga seharusnya bukan hal baru bagi lulusan IPB.

sertifikasi pilot drone FASI

Jadwal lengkap sertifikasi Basic Remote Pilot (BRP) FASI batch 14

Semua materi yang diberikan dibukukan dalam buku panduan berjudul¬†The Remote Pilot Guidance¬†setebal 180+ halaman yang dibagikan ke setiap peserta. Col. Agung ‚ÄúSharky‚ÄĚ Sasongkojati, Wakil Sekjen FASI yang juga menjadi pengisi acara ini, mengklaim, setiap pilot drone akan mampu lolos ujian sertifikasi pilot Private Pilot License (PPL) di luar negeri, jika mampu mengkhatamkan buku panduan itu.

The remote pilot guidance

Buku The Remote Pilot Guidance yang diberikan kepada peserta Sertifikasi BRP FASI

Karena padatnya materi, penyampaian materi menjadi sangat cepat. Tapi jangan khawatir, semua materi sebenarnya sudah ada di buku The Remote Pilot Guidance, dan copy Powerpoint juga diberikan setelah selesai acara. Tapi saya sarankan untuk membuat catatan sendiri, tujuannya selain supaya materi bisa ditangkap lebih efektif, juga untuk mengusir rasa kantuk yang timbul karena penyampaian materi yang padat. Padatnya acara juga tidak memungkinkan adanya tanya jawab. Hanya pada materi tertentu saja ada kesempatan tanya jawab.

Col Agung ‚ÄúSharky‚ÄĚ Sasongkojati, Wasekjen FASI, saat memberikan materi

Sertifikasi tentunya tidak lepas dari ujian. Ujian di sertifikasi Basic Remote Pilot (BRP) FASI terdiri dari ujian tulis dan ujian praktek. Ujian tulis dilaksanakan di hari kedua. Ada 30 soal yang diujikan mencakup semua materi yang diberikan. Banyak juga ya? Tenang saja, Col Sharky biasanya memberikan ‚Äúkisi-kisi‚ÄĚ soal ujian yang diberikan. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa soal ujian dalam Bahasa Inggris. So, pastikan anda good command in English¬†supaya bisa menjawab soal ujian tulis ini.

Ujian praktek juga dilaksanakan di hari kedua. Ujian ini tidak menguji kemahiran pilot mengoperasikan drone. Ujian ini lebih banyak menguji pilot dalam hal¬†safety procedures meliputi¬†pre-flight check,¬†take-off procedures, basic manuever, dan landing procedures. Untuk ujian praktek ini, peserta dianjurkan untuk membawa drone sendiri. Saran saya, bawa saja drone kecil sejenis Mavic. Karena bentuknya kecil, dan nggak mencolok amat. Jangan bawa Inspire! Apalagi Trinity! ūüėÄ

Pada acara ini, FASI juga menjual merchandise berupa pin remote pilot untuk BRP. FYI, pin remote pilot FASI ada dua: 1) Basic Remote Pilot dengan warna perak, dan 2) Remote Pilot dengan warna emas. Karena ini adalah sertifikasi Basic Remote Pilot, maka yang dijual adalah pin berwarna perak. Pin yang gagah sekali dipasang di dada. Selain pin, FASI juga menjual kaos Remote Pilot yang ganteng sekali kalo dipakai ketika terbang.

Dengan mengikuti sertifikasi ini, saya dan peserta lain secara resmi juga menjadi anggota FASI. Sertifikasi dipegang, terbang jadi tenang. Leganya…

Tertarik mengikuti sertifikasi Remote Pilot FASI? Yuk kita diskusi di kolom komentar ūüôā

The Sky is a vast place, and has a lot rooms for fun, but there is no room for error

Sertifikasi Remote Pilot FASI

Saya dan Mas Sahid, setelah selesai mengikuti sertifikasi

Share

Arif K Wijayanto

Arif is lecturer and researcher based in Faculty of Forestry, IPB University. He is interested in research related to geoinformatics, WebGIS, and UAV/drone

You may also like...

2 Responses

  1. Drone yang dimaksud di sini termasuk drone yang banyak dipakai untuk fotografi atau videografi itu, ya?
    Apakah sertifikasi ini nanti melarang seseorang yang tidak memiliki sertifikat untuk menerbangkan drone?

    • Hallo mas Agung!
      Yap! Prinsipnya apapun jenis dronenya. Selama itu adalah Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau wahana udara tak berawak.

      Menurut hemat saya tidak demikian mas. Sertifikat yang didapatkan dari sertifikasi ini dapat menjadi bukti bahwa seorang pilot drone telah memahami hal-hal penting terutama terkait dengan safety saat mengoperasikan drone. Perusahaan pemberi kerja juga sudah banyak yang mensyaratkan seorang pilot drone harus memiliki sertifikat. Selain itu, untuk keperluan klaim asuransi, biasanya pihak asuransi akan menanyakan apakah pilot yang mengoperasikan drone sudah memiliki sertifikat atau belum.

      Tapi kalau hanya untuk kepentingan pribadi, apalagi jika tinggi terbangnya tidak melebihi batas maksimum (120 m), dan bukan di daerah terlarang atau terbatas, rasanya boleh-boleh saja.

      Trims sudah berkunjung ūüôā

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: