Mengolah Data GPS Differensial dengan CORS

geodetic differential GPS
Saya saat mengukur dengan GPS geodetic differential di Bontang, Kaltim
Reading Time: 3 minutes

Pengukuran dengan tingkat akurasi tinggi saat ini sudah menjadi kebutuhan, terutama untuk keperluan riset. Akurasi tinggi ini diperlukan untuk memastikan posisi suatu obyek yang diteliti tepat berada pada koordinat yang sebenarnya. Teknologi positioning yang mendukung pengukuran dengan akurasi tinggi adalah differential GNSS/GPS.

Perangkat GPS differensial memungkinkan pengukuran dengan tingkat akurasi atau ketelitian sampai pada sub-centimeter. Namun pengukuran dengan metode differential membutuhkan 2 perangkat yang bekerja sekaligus secara bersamaan, biasanya disebut dengan istilah base dan rover. Mengingat harganya yang mahal, kadang ini menjadi masalah. Solusi yang bisa diambil adalah dengan “meminjam” base dari CORS (Continuously Operating Reference Station). Nah pada tulisan kali ini, saya akan berbagi teknik mengolah data GPS differensial dengan CORS dari Badan Informasi Geospasial (BIG).

Sekilas Pengukuran dengan GPS Differensial

Perangkat GPS atau GNSS differensial tentunya berbeda dengan perangkat GPS handheld yang biasa kita gunakan. Perangkat GNSS differensial biasanya tidak digunakan untuk keperluan sehari-hari sebagai alat navigasi. Perangkat ini lebih sering digunakan untuk keperluan pengukuran pada skala proyek. Selain karena harganya yang tidak murah, penggunaan perangkat ini juga tidak sepraktis penggunaan GPS handheld. GPS differensial digunakan jika ingin mendapatkan hasil pengukuran dengan tingkat akurasi sangat tinggi, sampai pada sub-centimeter.

Ilustrasi pengukuran dengan teknik differensial (sumber: www.blackroc.com)

Untuk mencapai akurasi yang tinggi tersebut, setidaknya dibutuhkan dua receiver GNSS yang mengukur koordinat secara bersamaan menggunakan metode pengamatan fase. Karena itulah disebut dengan teknik pengukuran differensial. Dua receiver itu biasanya disebut dengan istilah base dan rover. Perangkat base diletakkan di posisi yang sudah diketahui koordinatnya. Sedangkan rover diletakkan di posisi yang ingin diukur. Baik base maupun rover dinyalakan untuk mengukur secara bersamaan dalam jangka waktu tertentu. Berikut adalah lama waktu pengukuran yang dianjurkan berdasarkan jarak antara base dan rover.

Jarak base-rover Satu frekuensi Dua frekuensi
1-3 km 15 menit 10 menit
3-5 km 20 menit 15 menit
5-10 km 30 menit 20 menit
10-20 km 2 jam 1 jam
20-100 km 4 jam 2 jam
100-200 km 6 jam 3 jam
200-500 km 12 jam 6 jam
> 500 km 24 jam 12 jam

Sekilas CORS

CORS atau Continuously Operating Reference Station adalah sistem GNSS yang beroperasi secara kontinyu selama 24 jam sebagai acuan penentuan posisi dengan tingkat ketelitian yang tinggi. CORS membantu pengguna receiver GNSS sehingga pengguna bisa melakukan pengukuran dengan hanya menggunakan satu receiver. Dalam hal ini, CORS akan bertindak sebagai base, sedangkan perangkat yang digunakan pengguna adalah sebagai rover.

Mengenal Ina-CORS

Di Indonesia, pengoperasian CORS dilakukan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). Stasiun CORS milik BIG tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Data yang dihasilkan kemudian dapat digunakan oleh pengguna, baik untuk layanan pengolahan secara post processing atau layanan koreksi ketika pengukuran menggunakan metode RTK.

Mengolah Data GPS Differensial dengan CORS

Download Data Contoh

Pada tulisan ini, saya akan mencontohkan teknik mengolah data GPS differensial dengan CORS, tepatnya dengan menggunakan metode post-processing. Saya sudah mempersiapkan data contoh yang dapat digunakan sebagai bahan latihan. Data dapat diunduh pada tautan berikut:

 

Data tersebut adalah data rinex yang merupakan hasil konversi dari file .T02 dari perangkat GPS Geodetic Trimble. Pada tutorial berikutnya, saya akan berikan cara mengubah data .T02 menjadi data rinex. Untuk keperluan tutorial kali ini, saya langsung memberikan data yang siap diolah di Ina-CORS.

Membuat Akun di Situs Ina-CORS

Setelah anda download data contohnya, silakan anda akses website Ina-CORS pada alamat http://inacors.big.go.id/. Lalu anda harus membuat akun dengan klik pada Create Account.

Selanjutnya, pada menu Shop, klik Buy Now pada Post-Processing. Tenang, walaupun istilahnya buy, anda tidak perlu membayar.

post processing subscription ina-cors

Lalu check pada Accept Terms and Use, dan klik tombol Subscribe Now.

Mengolah Data Rinex dengan Metode Post-Processing

Selanjutnya klik pada menu Post Processing, pilih Computation. Lalu muncul peta yang menunjukkan sebaran posisi stasiun CORS milik BIG. Anda dapat menuliskan nama project pada Project Name. Project name ini perlu ketika nanti anda akan mengolah banyak data. Klik tombol Add Rover Data. Lalu cari file data rinex yang sudah anda download. Setelah proses upload selesai, data akan langsung ditampilkan pada peta.

Pada peta itu juga ditunjukkan stasiun CORS terdekat yang akan dipakai sebagai stasiun base atau referensi pengukuran.

Lalu klik tombol Submit. Lalu Confirm. Tunggu hingga proses upload selesai. Selanjutnya akan muncul halaman Results. Jika pada sisi sebelah kanan masih ada icon roda gigi yang berputar, artinya proses pengolahan masih berjalan. Jika proses sudah selesai, akan langsung muncul hasil pengukuran seperti berikut:

Pada tabel itu terdapat informasi hasil pengukuran berupa koordinat X, Y, dan Z dengan masing-masing akurasinya. Tinggi yang ditampilkan adalah terhadap ellipsoid. Lalu ada juga informasi quality pengukuran. Anda dapat mengunduh laporan lengkapnya dengan klik pada tombol Full Report. Full report akan menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai hasil pengukuran.

Mudah bukan?

Share

Arif K Wijayanto

Arif is lecturer and researcher based in Faculty of Forestry, IPB University. He is interested in research related to geoinformatics, WebGIS, and UAV/drone

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *