Pergulatan Hati Seorang Dosen

dari thesewaneepurple.org
Reading Time: 3 minutes

Semester lalu, saya mengajar beberapa mata kuliah. Salah satunya adalah mata kuliah untuk mahasiswa semester 3, tentang pemetaan, SIG, dan UAV. Pada mata kuliah ini, saya mengisi beberapa pertemuan saja, karena menggunakan sistem team teaching. Saya mengisi 1 pertemuan pada sesi sebelum UTS, dan 6 pertemuan pada sesi setelah UTS. Karena mata kuliah ini adalah untuk mahasiswa semester 3, saya dari awal sudah berpikir agar mata kuliah ini sedapat mungkin disukai oleh mahasiswa. Why? Karena di kampus saya, mahasiswa semester 3 adalah mahasiswa yang baru saja memasuki program studi sebenarnya, setelah sebelumnya mereka belajar di tingkat 1 dengan mata kuliah dasar umum. Lagipula, mata kuliah ini adalah mata kuliah yang baru diberikan. Mereka adalah mahasiswa pertama yang mengambil mata kuliah ini. So, kami ingin memberikan kesan terbaik pada mata kuliah ini.

Singkat cerita, sampailah pada Ujian Akhir Semester (UAS). Saya kebagian jatah membuat lebih banyak soal. Tentu saja karena saya mengisi 6 dari 7 pertemuan pada sesi ini. Ujian masih dilakukan secara online. Google Form, seperti biasa, menjadi pilihan kami. Karena lebih stabil dan lebih mudah dalam hal penggunaannya. Soal saya buat dalam beberapa tipe: Benar-salah, isian singkat, dan perhitungan.

Ujian selesai, lalu berlanjut dengan proses pemeriksaan dan penilaian. Prinsip saya adalah saya tidak mau mempersulit mahasiswa. Sedapat mungkin saya memberikan nilai untuk setiap jawaban mereka. Jika ada jawaban yang kurang tepat, saya tetap berikan nilai. Kecuali jika jawabannya melenceng jauh, sulit bagi saya untuk memberikan nilai. Hasilnya, nilai teman-teman mahasiswa cukup beragam. Ada yang tinggi sekali, tapi tidak sedikit pula yang rendah. Saya submit rekapitulasi nilai dari saya ke dosen koordinator mata kuliah.

Selain kuliah, saya juga bertanggungjawab untuk sesi praktikum. Saya meminta teman-teman asisten untuk memberikan nilai yang layak untuk teman-teman praktikan. Hasilnya, rata-rata kelas untuk praktikum cukup tinggi, mencapai rata-rata 80. Good job guys!

Hingga beberapa hari yang lalu, ada mahasiswa yang kirim WhatsApp ke saya. Intinya, mahasiswa itu mengucapkan terima kasih atas bimbingan, ilmu, dan nilai yang didapatkan. Mahasiswa yang baik nih. Saya sendiri berekspektasi nilainya cukup tinggi.

Tapi kemudian, ada mahasiswa lain yang menjadi penanggungjawab (PJ) kelas, juga kontak saya. Melaporkan bahwa banyak teman-temannya yang mendapat nilai BC ke bawah. Mereka bertanya, apa yang menjadi penyebabnya. Karena mereka merasa selama ini mereka selalu mengerjakan tugas dan hadir, dan tentu saja merasa sudah maksimal mengerjakan tugasnya.

Tentu saja saya kaget. Karena itu diluar ekspektasi saya. Saya coba minta ybs untuk menuliskan daftar mahasiswa yang dimaksud. Lalu saya coba minta juga daftar nilai akhir yang sudah dikompilasi ke admin. Ternyata memang betul, banyak mahasiswa yang nilai akhirnya BC bahkan lebih rendah. Saya kaget.

Saya coba cek nilai yang saya berikan. Mulai dari nilai ujian tulis, dan juga nilai praktikum. Dari seluruh mahasiswa yang ada di daftar, hampir semuanya mendapat nilai praktikum di atas 80, hanya 1 mahasiswa saja yang nilainya dibawah 80. Itupun nilainya 77, hampir mendekati rata-rata kelas. Artinya, tidak ada masalah dengan praktikum.

Lalu saya coba cek nilai ujian tulis yang saya berikan. Dan ternyata, betul. Nilai mereka rendah.

FYI, saya sebelumnya sempat merevisi nilai yang saya submit ke koordinator mata kuliah. Saya merasa perlu merevisi karena saya sebelumnya menyamakan bobot untuk semua tipe soal. Ini saya pikir tidak adil, karena pada tipe soal benar-salah, mahasiswa banyak yang terjebak, sehingga banyak salah menjawab. Sedangkan, pada tipe soal isian dan perhitungan, seharusnya punya bobot lebih besar karena butuh usaha lebih untuk mengerjakannya. Akhirnya saya coba ubah bobotnya dengan memberikan bobot 30% untuk soal benar-salah, dan 70% untuk soal isian. Hasilnya, nilai mahasiswa terangkat.

Tapi ternyata, usaha itu tidak cukup meningkatkan nilai mereka. Masih banyak yang nilai akhirnya kurang memuaskan.

Terjadi pergolakan dalam hati saya. Saya khawatir, karena saya nilai mereka menjadi anjlok. Saya merasa bersalah sekali andai itu benar. Ditambah lagi setelah saya cek nilai UTS mereka, rata-rata terjun bebas di UAS. Ya, yang mereka kerjakan di UAS adalah soal-soal dari saya. Saya jadi merasa bersalah.

Saya coba kontak admin untuk menanyakan apakah nilai mereka masih bisa direvisi. Usaha terakhir yang mungkin bisa saya lakukan adalah mengubah bobot penilaian sehingga diharapkan bisa mengangkat nilai mereka. Tapi nampaknya sulit, karena sudah masuk ke sistem. Masih ada kemungkinan, tapi tentu saja sulit.

Saya juga coba kontak koordinator mata kuliah. Sedikit lampu hijau saya terima. Masih ada kemungkinan untuk revisi. Beliau coba cari info dulu. Jawaban yang kemudian saya dapatkan dari beliau: “Bisa rif. Tapi harus buat surat ke departemen. Sepertinya kita apa adanya saja”. Jawaban yang kurang memuaskan saya, tentu saja. Tapi saya tetap harus terima, saya tidak bisa memaksakan. Saya kemudian tanya, apakah nilai ujian boleh dirilis, karena teman-teman mahasiswa meminta transparansi nilai mereka. Koordinator MK kemudian mengizinkan, bahkan saya juga diizinkan jika perlu diskusi dengan mahassiswa untuk membahas ujian.

Tapi kemudian beliau kontak saya lagi, dengan jawaban yang saya harapkan. Saya diizinkan untuk merevisi. Nanti pihak departemen yang akan bantu menyurati pihak kampus untuk merevisi nilai yang sudah terlanjur masuk ke sistem. Tanpa menunggu, saya langsung merevisi nilai. Sampai akhirnya nilai hampir seluruh mahasiswa terangkat. Walau masih ada beberapa yang tidak tertolong. Dan saya rasa itu sudah cukup fair, saya tidak bisa membantu lebih banyak lagi.

Sebaran nilai sebelum revisi

 

Sebaran nilai setelah revisi

Nilai yang sudah direvisi sudah saya submit. Hingga tulisan ini saya buat, nilai di sistem masih belum berubah. Semoga bisa segera berubah dan sesuai ekspektasi teman-teman mahasiswa.

Share

Arif K Wijayanto

Arif is lecturer and researcher based in Faculty of Forestry, IPB University. He is interested in research related to geoinformatics, WebGIS, and UAV/drone

Leave a Reply

Your email address will not be published.