ThinkPad P15s Gen 2: Kesan Saya Setelah 2 Bulan Pemakaian

Reading Time: 12 minutes
Disclaimer: Tulisan ini mungkin tidak fokus membahas Lenovo ThinkPad P15s Gen 2. Tetapi juga akan membahas merk lain. Saya akan cerita perjalanan panjang saya sampai memutuskan untuk meminang ThinkPad P15s Gen 2 yang sekarang sedang saya pakai ini. Saya juga tidak akan mereview sedetail para reviewer handal yang biasa anda tonton di YouTube. So, kalo menurut anda ini tidak sesuai ekspektasi anda, monggo, silakan tutup tab ini. Atau jika anda hanya tertarik baca langsung kesan saya pada laptop ini, silakan anda skip ke bagian yang anda suka dengan memilih di daftar isi. Selamat membaca! 🙂

Awal Cerita

Lenovo Ideapad S340 Ryzen 5

Cerita berawal saat saya meeting online via Zoom. Waktu itu saya presentasi progress riset saya dengan profesor. Laptop yang saya pakai adalah Lenovo IdeaPad S340 – laptop istri yang saya pinjam setelah laptop saya (yang juga pinjaman), Dell XPS 13 mati total. Entah kenapa, laptop itu sering kali putus signal wifi. Akibatnya, saya jadi sering keluar masuk Zoom. Problem ini tidak sering. Tapi memang parahnya seringkali terjadi saat momen-momen penting, seperti waktu itu. Bukan cuma sekali, saya keluar masuk beberapa kali saat meeting penting itu.

Hingga profesor saya bilang, “Beli aja laptop baru rif. Kan masih ada dana sisa. Pakai aja“. Begitu katanya. Saat itu saya nggak begitu anggap serius. Karena laptop saya masih bagus, masih bisa diperbaiki. Begitu pikir saya.

Sampai akhirnya…

Petualangan Dimulai

Saya pakai laptop itu sejak laptop saya sebelumnya mati total. Dan harus dikembalikan ke kantor. Beruntung saat itu saya baru belikan laptop untuk istri. Semenjak istri di-PHK, dia nggak punya pegangan laptop. Makanya saya belikan laptop baru. Dengan spek yang tentunya sesuai kebutuhan istri. Dan pastinya kurang greget kalo saya yang pakai. Karena saya nggak punya laptop lagi, dan istri belum akan pakai laptop itu, jadilah saya yang pakai.

Semenjak saya pakai, problem wifi putus nyambung itu kok jadi makin parah. Apalagi kuliah online masih tetap berlanjut, bahkan sampai sekarang. Masalah di modem? Nggak juga. Buktinya laptop adik ipar saya oke-oke aja tuh. Handphone juga nyambung wifi terus, nggak pernah putus. Artinya memang ini laptop bermasalah. Apa saya ada usaha benerin? Sudah. Saya coba update driver wifi-nya, tetap saja, nihil hasil.

Lalu saya teringat tawaran profesor saya: beli laptop.

Saya baru sadar, itu tawaran yang menarik.

Saya mulai riset, cari laptop yang sesuai kebutuhan dan ketersediaan dana. Saya harus banyak riset, pikir saya. Karena saya nggak mau salah beli. Sayang kan, udah dibeliin, trus salah beli. Kebutuhan saya adalah laptop dengan performa yang cukup untuk kerjaan saya. Kerjaan saya lebih banyak bermain dengan data spasial semisal drone, citra satelit, dan data-data GIS lainnya. Laptop gaming adalah yang pertama terpikirkan. Karena laptop gaming pastinya punya performa tinggi, baik prosesor maupun grafisnya.

ThinkPad Bukan Pilihan

Bagaimana dengan ThinkPad? ThinkPad bukan jadi salah satu pilihan saya waktu itu. Saya nggak suka sama ThinkPad. “Laptop kok kaku amat“, pikir saya waktu itu. Saya memang sempat coba pakai, karena istri dulu saat masih kerja dipinjamkan ThinkPad (seri T kalo nggak salah). Dan saya nggak suka.

So, saya mulai riset.

ASUS ROG

Dan yang pertama terlintas adalah ROG dari Asus. Kata “game” pada Republic of Gamers itu sudah mendikte saya, bahwa laptop gaming, ya ROG. Beberapa tipe ROG sempat jadi incaran saya waktu itu. Sebutlah seri Zephyrus M16, Strix G14 dan G15, atau seri convertible Flow X13. Semuanya dibekali GPU generasi anyar yang gaming banget. Mantab lah pokoknya mah.

Saya mulai riset pilah pilih. Channel YouTube reviewer laptop macam JagatReview, DK ID, Gadgetin, dll, selalu saya buka tiap hari.

Beberapa varian ROG nggak menyediakan webcam. Komponen paling penting untuk saat ini, dimana kuliah online masih akan terus berlangsung. Setidaknya sampai tulisan ini publish. Pilihan yang tersisa hanya M16.

Saya suka dengan desain body M16 ini. Sayang, saya kurang sreg dengan keyboardnya

Tapi saya jadi mikir, saya belum pernah pakai Asus. Istri pernah pakai, dan katanya kurang enak. Maka terpengaruhlah saya. Bimbang.

Apalagi saya kurang sreg dengan keyboardnya Asus. Setelah pakai Lenovo beberapa bulan, saya mulai merasakan bedanya keyboard Lenovo dibanding keyboard laptop merk lain. Termasuk Asus. Yang menurut saya nggak serenyah keyboard Lenovo.

Lalu saya coba alihkan pandangan ke Lenovo.

Lenovo Legion

Laptop gaming dari Lenovo, Legion – berikutnya jadi bahan riset saya. Saya suka keyboardnya. Bukan buat gaming, karena saya kurang suka gaming. Tapi lebih untuk ngetik. Ini yang jadi alasan saya beralih pandang dari Asus ROG.

Legion 7i yang sempat jadi incaran. Tapi gugur karena bobot dan RGB-nya yang “tumpeh-tumpeh” (source: https://www.bgr.in/reviews/lenovo-legion-7i-2020-review-a-treat-for-gamers-927018/)

Beberapa tipe Lenovo Legion sempat jadi incaran. Ada Legion 5 dan Legion 7. Bobot dan dimensi jadi salah satu pertimbangan utama saya. Karena itu saya coba cari yang slim. Seri Asus sebelumnya menawarkan dimensi dan bobot yang pas. Tapi, kembali lagi ke keyboardnya. Di seri Legion, ada Legion Slim 7 dan Legion Slim 7i. Video review dari om Dedy Irvan (JagatReview) hampir tiap hari saya tonton. Saya cenderung ke Legion Slim 7i. Ini saya sudah sampai tahap pengen jadiin. Tapi sebelum jadi beli, saya pengen cobain pegang barangnya dulu. Pengen pastikan nyaman pakenya. Saya cek ke toko, kebetulan ada display-nya.

Legion Slim 7i. Salah satu incaran saya. Tapi sayang, keyboard RGB-nya terlalu keren buat saya

Tapi kok ya berat banget gitu loh. Belum ditambah charger adapternya yang segede bata ringan itu. Eh tapi nggak ringan juga sih. Dengan bobot segitu, bisa encok ntar saya. Jelas nggak oke kalo dibawa ke lapangan.

Akhirnya penasaran saya ke Lenovo Legion berkurang.

Bimbang. ROG pun kembali saya lirik. Bahkan sempat coba langsung di toko. Pilihan saya tetap di Zephyrus M16.

Tapi tetap saja, saya masih kurang sreg.

Mulai Melirik Workstation

Setelah mondar-mandir milih PC gaming, saya mulai terpikir untuk mengalihkan pandangan ke laptop workstation. Saya tergoda dengan ISV certification yang biasanya ada di laptop workstation. ArcGIS, termasuk yang dicakup di ISV certification. Dibanding laptop gaming, laptop workstation sepertinya lebih cocok untuk kerjaan saya. Dan memang jadinya akan lebih profesional dibanding laptop gaming.

Tapi lagi-lagi, jajaran laptop workstation dari ThinkPad bukan jadi pilihan saya awalnya. Pandangan saya awalnya lebih tertuju ke workstation dari Dell. Saya mulai riset Dell Precision. Tapi saya agak jengah juga dengan Dell. Sebelumnnya saya pernah pakai Dell XPS 13, cari sparepartnya lumayan sulit. Males jadinya.

Dell Precision 5560. Stylish. Tapi kesannya ringkih

Alternatif kedua ada dari keluarga HP. Laptop pertama saya dulu juga dari HP, saat masih memegang merk Compaq. Laptop yang cukup berkesan karena membantu saya selesai sarjana. Wokstation dari HP adalah keluarga Zbook.

HP Zbook Power G8

Pertimbangan saya kenapa akhirnya tidak memilih Zbook adalah overpriced. Ya, setidaknya menurut ukuran budget saya. Saya suka desainnya. Jeroannya juga pas sesuai dengan yang saya cari. Hal lain yang saya suka adalah adanya numpad. Ya, keyboardnya full size. Ini yang belum pernah saya punya di laptop-laptop saya sebelumnya. Tapi hati ini merasa belum mantab. Entah kenapa.

Naga merah MSI kemudian saya lirik. Ada MSI WS65 yang saya suka.

MSI WS65

Sebelumnya kami pernah beli workstation MSI juga, yaitu WS66 10 TM. Yang dipakai khusus untuk mengolah data drone di lab kami. Build quality-nya kokoh. Sering juga saya pakai untuk live streaming. Performanya kenceng. Keluhannya cuma 1: pernah rusak screen-nya, dan service-nya lumayan lama.

Karena khawatir hal yang sama, dan bobotnya yang lumayan berat, saya jadi urung memilih workstation dari MSI.

Dan akhirnya saya mulai melirik ThinkPad. Yang sebelumnya tak masuk daftar pilihan.

Laptop workstation apalagi ThinkPad memang bukan sesuatu yang mainstream. Siapa pula yang mau beli laptop yang spesifikasinya mungkin masih kalah dibanding laptop gaming, tapi harganya jauh lebih mahal. Style ThinkPad yang kaku juga membuat pasarnya makin sempit. Hanya mereka yang ngerti barang aja yang suka. Karena itu, sulit cari informasi laptop jenis ini. Pasarnya sedikit. Video review di YouTube juga sedikit sekali yang bahas. Kalaupun ada, bukan YouTuber Indonesia.

Satu dari sedikit video review berbahasa Indonesia yang membuat saya tertarik adalah video review dari om Dedy JagatReview berikut ini:

 

Dari video om Dedy, kemudian saya mulai cari tau ThinkPad P15s ini. Akhirnya saya tau kalau ada versi yang lebih baru, generasi 2 atau gen 2 dengan spesifikasi yang lebih tinggi. Video review lain yang membahas khusus ThinkPad P15s Gen 2 saya temukan di channel ini:

Dan akhirnya saya 90% mantab memilih ThinkPad P15s Gen 2 ini.

Saya jatuh cinta dengan ThinkPad. Desainnya khas, nggak ada duanya. Pentil merahnya itu loh. Walaupun Zbook juga punya, tapi ThinkPad punya jelas lebih ikonik.

Kesan Setelah 2 Bulan Pemakaian

Saya beli unit ThinkPad P15s Gen 2 ini via reseller langganan. Sebelumnya kami beli MSI WS66 10TM juga lewat reseller yang sama. Saya sudah sempat riset harga pasaran, dan memang harga penawaran dari reseller ini lebih tinggi. Tapi karena sudah langganan, dan nggak mau repot nyari-nyari (plus dibayarin pula), ya sudah kami jadi beli lewat reseller. Dan enaknya lagi, dianterin pula. Free ongkir. Tanggal 3 Februari 2022, laptop ini saya terima.

Ini spesifikasi unit yang saya terima:

•Intel® Core™ i7-1185G7 (4Core / 8Threads, 3.0 Ghz up to 4.8GHz, 12MB Cache)
•Memory 16GB DDR4 3200MHz SoDIMM
•Storage 512GB SSD M.2 2280 PCIe 3.0 NVMe
•VGA NVIDIA® Quadro T500 4GB GDDR6
•Display 15.6″ UHD (3840×2160) IPS 600nits Anti-glare
•Keyboard : Backlit
•WF+BT
•Webcam : 720P HD Camera with Microphone
•Standard Ports
1x USB 3.2 Gen 1
1x USB 3.2 Gen 1 (Always On)
1x HDMI 2.0
1x Headphone / microphone combo jack (3.5mm)
2x Thunderbolt 4 / USB4 40Gbps / USB-C 3.2 Gen 2
1x microSD card reader
1x side docking connector
1x Ethernet (RJ-45)
•Battery: Integrated 57Wh
•OS : Windows 10 Professional
•Warranty 3 Years

Awalnya saya minta upgrade SSD jadi 1 TB. Pengalaman pakai 512 GB kok kurang banget. Tapi ternyata tambahan biayanya jauh banget, 4 juta lebih. Mengingat pasaran harga SSD 1 TB nggak segitu, saya pikir cukup dulu dengan spesifikasi bawaannya. Nanti bisa upgrade sendiri.

So, bagaimana penilaian saya?

Body (9.5/10)

Saya suka dengan body-nya. Unik, terkesan kokoh dan serius, ringkas, dan nggak norak. Kalo bawa laptop ini dan taro di hadapan orang banyak, nggak akan ada yang nyangka kalo ini laptop mahal. Ini laptop low profile banget. Nggak sombong. Andai saya jadi ambil laptop gaming, kesannya pasti jadi beda.

Keyboard dan Touchpad (10/10)

Nggak berlebihan kan kalo saya kasih nilai sempurna di sektor keyboard? Siapa yang meragukan keyboard Lenovo. Apalagi ThinkPad punya. Travel distance-nya bikin nyaman ngetik. Keluhan saya sebelumnya di laptop ThinkPad istri ada di posisi tombol ctrl dan Fn yang tertukar, bisa diatasi dengan switch di BIOS. Jadi nggak terlalu masalah. Adanya numpad juga membantu dalam pekerjaan saya yang termasuk sering input angka-angka. Walau masih terbiasa input pakai tombol angka yang ada di barisan atas. Numpad ini yang jadi salah satu alasan saya pilih ThinkPad P15s Gen 2 ini.

Oh ya, keyboard-nya ini ada backlight juga loh. Tapi jangan berharap backlight RGB ya. Cuma warna putih dengan 3 tingkat kecerahan.

Touchpad-nya juga enak. Cukup luas dan posisinya pas karena di bawah tombol spasi. Teksturnya lembut, nggak kasar. Tombol fisik di atas touchpad yang jadi ciri khas ThinkPad itu hampir nggak pernah saya pakai. Pentil merah khas ThinkPad itu juga nggak pernah saya pakai. Tapi dengan adanya pentil merah itu, jadi pembeda dengan laptop lain. ThinkPad nih, senggol donk!

Baterai (8.5/10)

Saya belum coba tes performa baterainya secara utuh. Tapi dari pemakaian sehari-hari, saya cukup puas. Lagipula saya masih belum sering ke lapangan, yang memaksa untuk pakai laptop tanpa colok listrik. Selama pakai laptop ini, saya lebih sering colok listrik. Saran saya, aktifkan conservation mode atau Battery Charge Threshold melalui Lenovo Commercial Vantage. Ya, di ThinkPad P15s Gen 2 ini, namanya memang bukan Lenovo Vantage, ada kata “commercial”-nya. Saya sendiri set threshold 75% untuk start charging, dan stop charging di 80%. Setting ini mencegah aliran listrik masuk ke baterai setelah mencapai 80%. Jadi baterai nggak akan terisi penuh. Ini dipercaya lebih aman untuk pemakaian dengan gaya colok listrik, supaya baterai lebih awet.

Setting Battery Charge Threshold di Lenovo Commercial Vantage

Thermal (8/10)

Adem sih. Tapi kadang exhaust fan-nya berisik juga.

Saya juga sebenarnya baru tau, kode “s” pada namanya itu, berarti slim. Selain varian P15s, sebenarnya ada varian P15 yang punya spesifikasi lebih tinggi, body lebih tebal, dan harga lebih mahal. Alasan saya pilih varian s ini adalah karena sesuai dengan budget. Dan ternyata, ini varian slim. Dan memang betul, body-nya slim. Tapi karena itu juga exhaust fan jadi bekerja lebih keras. Dugaan saya sih begitu ya.

Tapi adem kok. Dibanding MSI WS66, ini lebih adem. Bahkan saat saya pakai kerja keras.

Audio (9/10)

Saya nggak terlalu sensitif dengan audio. Tapi bagi saya, audio di P15s Gen 2 ini oke. Nggak jelek, nggak bagus banget juga. ThinkPad P15s Gen 2 dibekali audio dari Dolby Audio Speaker System. Saya biasanya pakai headphone. Cuma sesekali aja pakai speaker internal laptop saat meeting Zoom. Sejauh ini sih saya nggak ada keluhan berarti untuk audio-nya.

Layar (9/10)

Resolusi UHD 3840×2160 memang bukan yang tertinggi. Rasio 16:9 juga sebenarnya udah pasaran banget. Tren sekarang mulai beralih ke 16:10, yang jadi salah satu alasan saya suka ASUS ROG Zephyrus M16. Layar IPS juga bagi saya udah cukup banget, setidaknya untuk kebutuhan saya.

Oh ya, layarnya juga udah calibrated dengan x-rite PANTONE.

Webcam (8/10)

Webcam-nya cuma HD 720p. Tapi yang saya lihat, cukup oke. Malah lebih bagus dari webcam punya MSI WS66 10 TM. Dulu saya sampai pakai kamera iPad untuk Zoom pakai workstation MSI itu. Ini beberapa screenshot Zoom menggunakan webcam di P15s Gen 2.

Zoom dengan virtual background

Zoom dengan blur background

Zoom tanpa background

Port (9/10)

Ketersediaan port di ThinkPad P15s Gen 2 ini menurut saya cukup lengkap. Dengan 2 buah port USB 3.2 gen 1 yang ada di kanan dan kiri, combo jack audio 3.5 mm, HDMI yang biasanya absen di laptop slim, 2 buah Thunderbolt 4 (salah satunya untuk charger). Port microSD juga oke, walaupun akan lebih oke lagi kalo ada port SD card. Karena kamera saya masih pakai SD card. Tapi yah drone saya kebanyakan pakai microSD, jadi bakal kepake juga sih. Jadinya kebalik, kalo dulu saya butuh adapter kalo mau copy data dari microSD, sekarang saya butuh adapter kalo mau copy data dari SD card. Dan port Thunderbolt-nya membantu banget. Karena saya bisa pakai adapter yang port-nya lebih banyak lagi.

Untuk posisi port, sebenarnya lebih oke lagi kalo ada di belakang. Seperti yang saya suka dari Legion yang kebanyakan pasang port-nya di belakang. ThinkPad seri P50 juga port-nya di belakang. Jadi lebih rapi aja gitu kalo ditaro di meja kerja.

Prosesor (8/10)

Saya prefer laptop dengan prosesor Intel. Kenapa bukan Ryzen? Karena saya mengincar port Thunderbolt yang (katanya) cuma ada di prosesor Intel. Pengalaman saya pakai Lenovo Ideapad S340 dengan prosesor Ryzen, port USB-C-nya nggak bisa dipakai untuk display. Karena saya rencananya pakai laptop ini dengan dual monitor atau lebih, port ThunderBolt sepertinya akan sangat membantu.

Tapi jujur saya kurang riset di sisi prosesor ini. Patokan saya sederhana: minimal Core i7. Untuk dapat Core i9 jelas nggak masuk budget saya. Apalagi maksain Xeon. Jadi, bagi saya yang penting minimal i7. Dan itu sudah terpenuhi di ThinkPad P15s Gen 2 ini. Sesimpel itu, pikiran saya. Saya nggak tau kalo varian Core i7 itu ada banyak.

Unit ThinkPad P15s Gen 2 ini diperkuat oleh prosesor Intel Core i7 generasi 11 dengan kode i7-1185G7. Dari generasinya sih masih cukup anyar ya. Tapi kalo lihat 2 digit terakhirnya, saya baru tau kalo prosesor itu bukan yang varian high performance. Dari website Intel, informasi yang saya dapat adalah:

10th and 11th Generation Intel® Core™ processors designed for laptops and 2 in 1s that are generally thin, light, and for everyday usage have two different naming conventions. To understand which type of processor you’re looking at, simply check for the presence of a “G” in the processor number, just before the final digit. Processor numbers with a “G” are optimized for graphics-based usages and include newer graphics technology.

Disana disebutkan bahwa kode G itu berarti prosesor ini dioptimalkan untuk penggunaan berbasis grafis dan sudah termasuk teknologi grafis yang terbaru. Ada yang tau maksudnya? Please leave me a comment ya.

Informasi lebih lengkap mengenai prosesor Intel, bisa dilihat di laman ini:
Intel® Processor Names, Numbers and Generation List

Saya juga dapat file perbandingan semua varian prosesor Intel untuk laptop dalam format Ms Excel. Silakan bisa diunduh disini:
Comparison Chart for Intel® Core™ Laptop Processor Family

Prosesor ini bukan yang tercepat dari yang pernah saya coba pakai. Setelah sebelumnya pakai Intel Core i9 di MSI WS66 10TM, prosesor di ThinkPad P15s Gen 2 ini terasa kalahnya. Apalagi sempat saya bandingkan untuk mengolah data drone. Performanya kalah jauh. Post ini akan saya update dengan perbandingan olah data drone.

Bagaimana dengan vPro? Well, laptop ini memang dibekali prosesor dengan fitur vPro. Fitur yang memungkinkan akses jarak jauh untuk PC. Biasanya unit laptop perusahaan butuh ini. Karena tim IT bisa dengan mudah mengendalikan secara remote unit laptop yang bermasalah. Lalu bagaimana dengan saya? Saya cuma pakai laptop ini untuk pribadi. Tim IT-nya ya saya sendiri. Jadi sebenarnya vPro tidak begitu terpakai.

GPU (8/10)

Saya bukan gamer. So, saya pasti nggak akan install game macem-macem di laptop ini. Game AAA jelas nggak akan mampir. Jadi, sektor GPU sebenarnya lebih saya pakai untuk pengolahan data penginderaan jauh seperti citra satelit dan drone. Sejauh ini performanya masih oke untuk pekerjaan saya. Kalau anda seorang gamer, saya sarankan jangan ambil laptop ini. Ini laptop serius!

RAM (8/10)

Saya masih kurang puas dengan RAM-nya. Mungkin karena masih single channel. Dan ternyata setelah saya cek di CPU-Z, ternyata SPD RAM saya tidak terdeteksi.

SPD tidak terdeteksi di CPU-Z

Karena itu saya berencana upgrade RAM, karena masih ada 1 slot kosong. Nabung dulu deh.

SSD (9/10)

Dari segi kapasitas, saya masih kurang puas. Pengennya sih minimal 1 TB. Biar nggak repot-repot colok hardisk external. Tapi dari sisi speed, nggak terlalu kerasa sih. Masih wajar lah. ASUS M16 katanya bisa tembus 6000 MB/s untuk read dan write. Keren emang.

Performa SSD dengan CrystalDiskMark

Mobility (9/10)

Karena body-nya slim, mobilitynya bagi saya cukup oke. Nggak ringan banget memang. Karena ini bukan laptop bisnis 2-in-1 yang tipis banget. Ini workstation loh. Laptop yang dipakai kerja berat dan serius. Tapi ini lebih ringan dibanding laptop gaming kebanyakan. Legion 5 pro yang sempat saya angkat, kerasa loh beratnya. Belum lagi chargernya yang segede bata ringan tapi nggak ringan itu. Mobility untuk P15s Gen 2 ini menurut saya oke. Hanya saja, saya perlu beli tas lagi. Karena tas saya terlalu kecil untuk laptop 15 inch.

Satu hal yang saya kurang puas: bonus tasnya cuma tas jinjing biasa. Nggak mengesankan kalo ini laptop premium. Saya sih berharap bisa dapat tas backpack macam punya Legion. Atau macam bonusannya MSI yang keren juga.

Legion Recon, bonusan-nya Lenovo Legion

Backpack bonus pembelian MSI WS66 10 TM

Usability (9/10)

Sensor fingerprint-nya mempermudah saya untuk login ke Windows. Nggak perlu ngetik password atau pin lagi. Lebih pas lagi kalo dapat varian yang ada slot SIM card-nya. Biar kalo lagi di lapangan dan butuh koneksi internet nggak perlu tethering lagi.

ISV Certification (7.5/10)

Salah satu alasan saya beli workstation ya karena adanya ISV certification ini. ArcGIS, salah satu program yang mengeluarkan sertifikat ISV untuk laptop ini, termasuk program yang sering saya pakai. Tapi ternyata beberapa kali saya temui ArcGIS saya crash. Jadi, apa saya yang salah memahami ISV certification itu ya?

Layanan After Sales (9/10)

Saya sempat kontak customer care Lenovo perihal SPD yang nggak terdeteksi. Dan direspon secara khusus via telepon oleh premium support Lenovo. Nomor telepon-nya dari Malaysia (+60). Jadi berasa orang penting loh.

Performa Keseluruhan (8/10)

Terus terang saya masih belum puas dengan performanya. Paling kerasa adalah saat mau saya pakai untuk live streaming, dengan OBS dan Zoom. Laggy parah. Bahkan performanya kalah jauh dengan Ideapad S340 punya istri saya. Sampai saat ini saya belum nemu solusi dan penyebabnya. Apakah karena CPU throttling, atau karena RAM-nya yang masih single channel. Yang paling mungkin saya lakukan adalah upgrade RAM. Semoga performanya betulan membaik setelah upgrade RAM.


So, itulah kesan saya setelah memakai mobile workstation Lenovo ThinkPad P15s Gen 2 selama 2 bulan ini. Secara umum saya masih kurang puas. Tapi dalam banyak hal juga saya suka dengan laptop ini. Dan satu yang pasti, saya sudah jatuh cinta dengan ThinkPad. Terima kasih sudah membaca 🙂

Share

Arif K Wijayanto

Arif is lecturer and researcher based in Faculty of Forestry, IPB University. He is interested in research related to geoinformatics, WebGIS, and UAV/drone

Leave a Reply

Your email address will not be published.