Jangan Upload Paper ke ResearchGate, kecuali…

Reading Time: 5 minutes

Jangan upload paper ke ResearchGate, kecuali…

Ini yang pertama kalinya sependek pengalaman saya menjadi dosen dan peneliti. Saya pertama kali ditolak mentah-mentah oleh editor jurnal ilmiah, di submission awal. Loh, gimana ceritanya?

Kronologinya…

Pandemi COVID-19 yang merebak sejak awal tahun 2020 menurut banyak orang memberikan kesempatan kepada Bumi untuk “bernapas”. Yak, faktor manusia nampaknya menjadi penyebab utama bumi kita selama ini “sulit bernapas”. Adanya pandemi memaksa manusia sedikit menurunkan aktivitasnya. Transportasi yang selama ini menjadi penyumbang polusi terbesar, secara drastis menurun karena pandemi.

Hal itu memberikan “kesempatan” kepada para peneliti, terutama di bidang lingkungan, untuk mengkaji perubahan lingkungan yang terjadi selama adanya pandemi. Saya dengan minat penelitian di bidang geospasial, juga ikut tertarik melakukan kajian.

Dengan memanfaatkan platform Google Earth Engine (GEE), saya tertarik mengkaji perubahan suhu permukaan (Land Surface Temperature, LST) di Jakarta dan Surabaya pada saat pandemi, lalu membandingkannya dengan kondisi normal sebelum adanya pandemi. Data yang saya gunakan adalah MODIS Terra Land Surface Temperature and Emissivity 8-Day Global 1km yang tersedia di GEE. Hipotesis saya adalah ada penurunan suhu yang terjadi selama adanya pandemi. Analisis yang saya lakukan sangat sederhana. Saya hanya membandingkan distribusi suhu secara tabular dan spasial. Lalu untuk visualisasi, saya buat aplikasi display menggunakan fitur Earth Engine Apps, yang dapat diakses di alamat: https://akwijayanto.users.earthengine.app/view/lst-jakarta-vs-surabaya-during-covid-19

Keisengan ini kemudian saya tuliskan dalam bentuk paper sederhana berbahasa Inggris. Entah kenapa saya lebih memilih menulis dalam Bahasa Inggris¬†ketimbang Bahasa Indonesia setiap kali menulis paper. Bukan, bukan karena bahasa Inggris saya jago. Buktinya, setelah paper masuk ke proofreader, banyak sekali revisinya. Hihi ūüėÄ

Paper saya tulis menggunakan template jurnal yang kebetulan saya kelola. Prinsip saya, yang penting ada bentuknya dulu. Kalau sudah siap, tinggal sesuaikan saja dengan gaya selingkung jurnal yang dituju.

Paper kemudian saya unggah ke ResearchGate (RG) sebagai preprint. Saya terinspirasi oleh beberapa peneliti yang saya follow di RG. Mereka mengunggah paper mereka yang statusnya belum publish, dengan tujuan mendapatkan masukan dari kolega dan sejawat. RG menyediakan fitur preprint untuk menfasilitasi. Preprint atau pracetak adalah versi asli atau draf dari makalah mereka sendiri sebelum peer review dilakukan dan sebelum mereka menerbitkannya Рterkadang dalam jurnal peer-review. Lebih lengkap mengenai fitur preprint di RG dapat dibaca pada: https://explore.researchgate.net/display/support/Preprints

preprint is an author’s own original or draft version of their paper before¬†any peer review has taken place and before¬†they publish it – sometimes in a peer-reviewed journal.

Saya pun memanfaatkan fitur itu. Tujuannya, sama dengan kebanyakan pengguna RG: untuk mendapatkan komentar dan masukan positif yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas paper. Singkat cerita, paper saya upload ke RG sebagai pre-print. Lalu kemudian muncul reaksi dari para follower saya di RG, dan beberapa peneliti lain yang tidak saya kenal. Komentar atau masukan yang diharapkan, belum juga ada.

Hingga akhirnya, divisi kami, Divisi Analisis Lingkungan dan Pemodelan Geospasial, mengajukan proposal riset tentang COVID-19. Dan paper yang saya tulis iseng-iseng itu dirasa cocok untuk dijadikan salah satu output dari riset kami. Karena sudah ditulis dalam Bahasa Inggris, salah satu kolega menyarankan paper sebaiknya dipublikasikan di jurnal internasional. Pilihan pun jatuh kepada jurnal Advances in Environmental Sciences РInternational Journal of the Bioflux Society, sebuah jurnal internasional berbahasa Inggris tentang ilmu lingkungan.

Submission e-mail ke AES

Setelah menyesuaikan template, paper pun saya submit melalui e-mail ke editor. Submission letter saya buat semenarik mungkin, berharap respon positif dari editor. Saya ingat betul saat itu saya sedang survey lapangan ke Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dan saya mengirim paper malam hari di lobi hotel.

Esok paginya, saat membuka¬†handphone, ada notifikasi e-mail masuk. Dan itu dari editor jurnal AES. Wah! Cepat sekali! Pikir saya. Tentu saya penasaran, respon apa yang diberikan editor untuk paper saya. Dan inilah responnya…

 

E-mail balasan dari editor jurnal AES

Saya direject.

Untuk pertama kalinya.

Tentu saja saya shock.

Saya baca dengan teliti e-mail itu. Saya ingin tau alasan editor menolak naskah saya. Ternyata menurut editor, saya sudah submit naskah yang sama ke jurnal lain. Saya dianggap tidak profesional karena membuat pernyataan bahwa paper yang saya submit tidak pernah disubmit atau dipublikasikan di tempat lain, sedangkan ‘faktanya’, paper saya sudah diterbitkan di jurnal lain.

Kaget. Saya kaget karena saya merasa belum pernah sama sekali mengirimkan paper itu ke jurnal manapun. Bahkan saya juga belum pernah mempresentasikannya di conference atau seminar manapun. Tidak pernah. Sekalipun.

Lalu apa maksud pak editor?

Ternyata setelah saya lihat attachment-nya, draft paper yang saya tulis menggunakan template naskah jurnal yang saya kelola, lalu saya upload ke RG sebagai preprint, ada disana.

Ahh… Saya jadi lega. Lega karena artinya saya bisa meng-counter temuan pak editor. Dan tentunya ada harapan naskah saya diterima.

Saya pun segera menyiapkan balasan e-mail. Saya sampaikan fakta sebenarnya bahwa naskah yang ada di RG hanyalah preprint. Naskah itu belum pernah dipublikasikan dimanapun. Saya juga memberikan link ke website jurnal yang templatenya saya pakai, Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL). Karena saya yakin, pak editor AES pasti mengira saya submit dan mempublikasikan paper saya disana. Tidak ketinggalan, saya juga lampirkan surat pernyataan dari editor jurnal JPSL. Lengkap!

Dan respon dari editor adalah…

Well, sebagai pengelola jurnal, saya paham sekali yang dimaksud beliau. Perjuangan suatu penerbit jurnal untuk dapat diindex oleh lembaga pengindex bukanlah mudah. Penerbit harus memenuhi kriteria-kriteria yang sudah ditetapkan pengindex agar jurnalnya dapat bertahan sebagai jurnal yang diindex. Apalagi beliau cerita bahwa jurnalnya sudah dihapus dari database DOAJ, salah satu pengindex jurnal open-access terbesar. Jelas itu sebuah kerugian besar. Penyebabnya? Menurut beliau, banyak evaluator (dari lembaga pengindex, mungkin) yang tidak bisa membedakan published material dan simple neutral upload seperti preprint. Dengan gampangnya evaluator mencari judul suatu artikel di Google, dan jika ditemukan, maka evaluator menganggap artikel itu sudah published di tempat lain. Gampangnya, diduga double publish, atau paling parah: plagiarism!

Beliau pun meminta saya untuk menghapus naskah saya di RG, yang tentu saja saya lakukan tanpa diminta. Beliau juga minta saya untuk sedikit mengubah judul artikel. Tujuannya jelas untuk memperkecil kemungkinan ditemukannya naskah di software pemeriksa plagiarisme.

Dan yang membuat saya tersenyum: beliau menawarkan 2 kemungkinan proses review, yaitu fast dan regular. Dengan fee yang berbeda.

Ahh… Lampu hijau. Kelegaan yang kedua.

Dengan penuh semangat, saya segera hapus naskah di RG, lalu lewat Google Search Console, saya minta Google untuk menghapus naskah di RG itu dari hasil pencarian.

Fyuhh… Perjuangan yang panjang. Hanya untuk membuktikan bahwa naskah saya belum pernah publish dimanapun.

Dan perjuangan itu dibalas dengan Letter of Acceptance dan tagihan publication fee. Yang dengan semangat pula segera saya bayarkan.

Dan akhirnya, review pertama dari reviewer saya terima kemarin (17 Jan 2021). Langsung saya revisi dan berikan respon ke editor. Dan baru saja, hari ini (18 Jan 2021), 51 menit yang lalu, saat saya menulis post ini, editor mengirimkan versi final dari paper saya. How fast? Editor dan penulis sama-sama semangatnya.

OK fine! Saya¬†pause dulu nulis post ini. Harus saya baca dulu nih versi finalnya. Sebentar ya…

Baru saja saya selesai baca, dan hanya ada sedikit koreksi pada afiliasi dan ucapan terima kasih. Dan paper saya pun terbit di AES Bioflux, 2020, Volume 12, Issue 3. Alhamdulillah.. Finally…

Versi online paper: http://www.aes.bioflux.com.ro/home/volume-12-3-2020/

Preprint bukanlah duplikasi, apalagi plagiarisme

Tulisan menarik ditulis oleh Pak Dasapta Erwin Irawan, di blognya: http://dasaptaerwin.net/wp. Menurutnya, preprint bukanlah duplikasi ataupun plagiarisme. Saya mendapat banyak sekali insight baru setelah membaca tulisan Pak Dasapta. Diantaranya: preprint bukanlah hal baru, dia sudah lama ada dan dikenal banyak penulis artikel ilmiah. Dan banyak pula repositori preprint semacam ArXiv, BioRxiv, OSF preprint family, Figshare, Zenodo, Preprints, yang sudah lama ada. Artinya memang preprint sudah merupakan hal yang biasa.

Preprint juga ternyata bisa dirujuk. Karena beberapa repositori preprint juga memberikan Digital Object Identifier (DOI) untuk setiap materi preprint. Tentu saja dengan beberapa catatan, misalnya: dokumen preprint belum melalui proses peer-review. Artinya, penulis yang merujuk harus sadar betul konsekuensinya.

Pak Dasapta juga meminta pengelola jurnal untuk tidak langsung percaya dengan hasil dari software pemeriksa plagiarisme. Karena bisa jadi yang ditemukan oleh software sebenarnya adalah versi preprint dari manuskrip. Pak Dasapta menyarankan pengelola jurnal untuk memeriksa surat pengantar dari penulis yang mungkin saja menyatakan bahwa naskah sudah pernah diunggah sebagai preprint.

Jika ingin tau lebih jauh mengenai konsep preprint, silakan kunjungi blog Pak Dasapta melalui tautan berikut: http://dasaptaerwin.net/wp/2018/12/preprint-bukan-duplikasi-apalagi-plagiarisme.html

Kesimpulannya

Dengan segala keriuhan yang terjadi pada proses publikasi artikel ilmiah saya, maka saya menyarankan agar Jangan upload paper ke ResearchGate, kecuali…

  1. Paper telah publish.
  2. Jika ingin mengunggah sebagai preprint, anda tidak menggunakan template jurnal manapun untuk naskah preprint anda. Kesalahan saya adalah saya menggunakan template suatu jurnal, yang menegaskan seolah-olah naskah itu sudah diterbitkan oleh jurnal tertentu. Lebih baik gunakan format line-number layaknya format umum yang digunakan saat awal submission.
  3. Anda dapat menyiapkan surat pernyataan yang menguatkan bahwa anda memang pernah mengunggah naskah ada sebagai preprint. Hanya saja, ini akan beresiko bagi pengelola jurnal. Karena alasan yang saya sebutkan di kronologi.

Hal itu tidak hanya berlaku di ResearchGate, tapi juga berlaku untuk repositori lain dan juga blog atau situs pribadi. Cheers!

Share

Arif K Wijayanto

Arif is lecturer and researcher based in Faculty of Forestry, IPB University. He is interested in research related to geoinformatics, WebGIS, and UAV/drone

2 Responses

  1. Agung Sudomo says:

    Wih mantap Mas Arif. Pengetahuan baru juga nih. Berguna banget buat saya yang baru mulai bikin riset.

    Sehat selalu Mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: