Dalam bidang ekologi dan konservasi lanskap, pemahaman mengenai kualitas habitat adalah satu hal yang penting. Kualitas habitat menjadi faktor kunci yang menentukan keberlangsungan kehidupan suatu spesies di suatu ekosistem. Habitat dengan kualitas tinggi menyediakan sumber daya yang cukup, mendukung proses ekologis yang sehat, dan memungkinkan spesies untuk bertahan serta berkembang biak. Salah satu cara untuk mengkuantifikasi kualitas habitat adalah menggunakan fragmentasi patch atau patch fragmentation.
Apa itu patch fragmentation?
Fragmentasi hutan di Jepang tampak saat saya "menumpang" VietJet Air, jelang mendarat di Narita Airport |
Dalam ekologi, fragmentasi adalah proses pemecahan suatu wilayah atau sistem yang awalnya utuh menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Fragmentasi habitat mengacu pada pembagian habitat alami menjadi patch (petak-petak) yang terisolasi akibat faktor alami atau aktivitas manusia. Fragmentasi dapat terjadi secara alami, misalnya akibat bencana alam seperti letusan gunung berapi atau perubahan iklim dalam jangka panjang. Namun, faktor utama penyebab fragmentasi habitat saat ini adalah aktivitas manusia, seperti:
Deforestasi untuk pertanian dan pemukiman
Pembangunan jalan, bendungan, atau infrastruktur lainnya
Perluasan kawasan industri dan perkotaan
Perubahan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan
Mantan presiden Jokowi saat meninjau terowongan perlintasan gajah di km 42 tol Pekanbaru-Dumai (foto: BPMI Setpres/Laily Rachev) |
Bacaan menarik:
Parameter dan Indikator Patch Fragmentation
Jumlah Patch – Mengukur jumlah total patch dalam suatu area. Semakin banyak patch yang ada, semakin tinggi tingkat fragmentasinya.
Luas Rata-rata Patch – Semakin kecil ukuran patch, semakin tinggi tingkat fragmentasi.
Indeks Perimeter-Luas (Shape Index) – Mengindikasikan kompleksitas bentuk patch. Semakin tidak beraturan bentuknya, semakin tinggi tingkat fragmentasi.
Jarak Antar Patch (Proximity Index) – Menunjukkan seberapa jauh satu patch dengan patch lainnya. Jika jaraknya semakin jauh, maka konektivitas habitat semakin rendah.
Core Area – Luas bagian dalam habitat yang tidak terpengaruh oleh tepi atau batas luar habitat.
Edge Density – Mengukur panjang total batas patch dibandingkan dengan luas total wilayah, yang menunjukkan sejauh mana habitat mengalami efek tepi (edge effect).
Bagaimana Patch Fragmentation Berhubungan dengan Kualitas Habitat?
Isolasi Populasi – Spesies yang sebelumnya memiliki ruang gerak yang luas kini terbatas dalam area yang lebih kecil, sehingga menghambat pergerakan dan perkawinan.
Efek Tepi (Edge Effect) – Semakin banyak batas (edge) habitat yang terpapar lingkungan luar, semakin tinggi risiko gangguan eksternal, seperti perubahan suhu, angin, dan masuknya spesies invasif.
Penurunan Sumber Daya – Dengan berkurangnya luas habitat, ketersediaan makanan dan tempat berlindung juga semakin terbatas.
Meningkatnya Risiko Kepunahan Lokal – Spesies yang tidak dapat beradaptasi dengan perubahan akibat fragmentasi cenderung mengalami penurunan populasi.
Hasil studi Iida et al (1995) menunjukkan bahwa meningkatnya luasan habitat akan turut meningkatkan jumlah spesies yang hidup di sana |
Terkait dengan pinggiran atau edge, studi lain yang dilakukan oleh Kurosawa dan Askins (1999) mengkaji perbedaan komunitas burung antara tepi hutan dan bagian dalam hutan di Jepang. Penelitian ini menemukan bahwa beberapa spesies burung migran tropis, seperti Turdus cardis, Phylloscopus coronatus, dan Cuculus saturatus, lebih melimpah di bagian dalam hutan dibandingkan di tepi hutan. Temuan ini menunjukkan bahwa fragmentasi habitat yang meningkatkan proporsi area tepi hutan dapat mengurangi kualitas habitat bagi spesies yang bergantung pada interior hutan. Dengan demikian, fragmentasi patch dapat mengurangi luas habitat yang sesuai bagi spesies interior, meningkatkan risiko kepunahan lokal, dan mengurangi keanekaragaman hayati secara keseluruhan.
Rusa sika Jepang (sumber gambar: Famous Sika Deer Represent Rare Ancestral Population That’s Survived For 1,000 Years | IFLScience) |
Menariknya, fragmentasi hutan di Jepang ada kaitannya dengan rusa sika Jepang (Cervus nippon) yang over population. Rusa sika cenderung berkumpul di area tepi hutan yang terfragmentasi, menyebabkan overgrazing1 yang menghambat regenerasi pohon dan mengubah komposisi komunitas tumbuhan. Selain itu, fragmentasi hutan mengurangi habitat alami bagi predator alami rusa, seperti serigala Jepang (Canis lupus hodophilax) yang telah punah sejak abad ke-20, sehingga mengakibatkan kurangnya kontrol alami terhadap populasi rusa. Berkurangnya populasi serigala, meningkatkan populasi rusa, yang kemudian meningkatkan overgrazing sehingga hutan tidak bertumbuh. Oleh karena itu, fragmentasi hutan dan peningkatan populasi rusa sika saling berkaitan, memperburuk dampak negatif terhadap ekosistem hutan di Jepang.
![]() |
Siklus fragmentasi hutan - hilangnya populasi serigala - tumbuhnya populasi rusa - yang memperburuk kondisi ekosistem hutan di Jepang |
How Sika Deer’s Overpopulation Led To Forest Decline in Kyushu
Restore wolves or slaughter deer to save Japanese forests?
Perhitungan Patch Fragmentation
Selain Fragstat dan landscapemetrics di R, beberapa plugin di QGIS juga dapat digunakan untuk menganalisis patch fragmentation, seperti:
LecoS (Landscape Ecology Statistics) - Homepage: https://plugins.qgis.org/plugins/LecoS/
FragScrape - Homepage: https://plugins.qgis.org/plugins/FragScape/
Implikasi bagi Konservasi dan Pengelolaan Lanskap
Pemahaman terhadap patch fragmentation sangat penting dalam upaya konservasi dan pengelolaan lanskap. Dengan mengidentifikasi area yang mengalami fragmentasi tinggi, para peneliti dan pengelola kawasan dapat merancang strategi mitigasi, seperti membangun koridor ekologis untuk meningkatkan konektivitas antar patch habitat, atau mengatur kebijakan penggunaan lahan yang lebih berkelanjutan. Selain itu, pemantauan terhadap fragmentasi habitat dapat membantu dalam merancang kawasan lindung yang lebih efektif untuk menjaga keanekaragaman hayati.
Kesimpulan
Patch fragmentation merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kualitas habitat dan keanekaragaman hayati suatu kawasan. Dengan memahami konsep ini serta menggunakan alat analisis seperti Fragstats dan landscapemetrics di R, kita dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai dampak fragmentasi terhadap ekosistem dan bagaimana langkah-langkah konservasi dapat diambil untuk mengurangi dampak negatifnya.